Disebuah Gunung;Penuh Malu dengan kemaluan.


Bukan Soe Hok Gie atau aktifis yang sejenisnya. Saya kemarin sempatkan menaiki sebuah gunung. Jalannya cukup terjal, daerah Silo Baban Timur tepatnya. Gunung tersebut bernama gunung angin. Ya, begitulah masyarakat menyebutnya. Daerah ini cukuplah terpencil, bagaimana tidak, aliran energi listrik saja belum cukup maksimum menyentuh daerah Baban Timur ini. Terlihat aliran listrik hanya menggunakan Aki, itupun disuplay dari tenaga surya. Daerah ini cukup sepi, jarak rumah antar penduduk cukup jauh.

Tak ada perjalanan yang hebat, selain perjalanan yang melelahkan. Saya dan teman-teman berkeinginan memuncaki gunung angin tersebut. Dengan mengendarai sepedah motor saya dan teman-teman bergegas menuju puncak gunung. Perjalanan yang sangat menegangkan. Coba bayangkan, jalan yang lebarnya hanya kurang lebih 3 meter, berbatu dan berliku-liku pula. Wah, selip sedikit mungkin tak pulang. Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di puncak gunung angin. Mata ini mendadak tertuju pada sebuah makam yang berada di tepat puncak gunung. Menurut salah satu teman saya yang kebetulan juga penduduk sekitar, makam tersebut keramat. Ada 3 tempat makam yang berbeda tetapi masih 1 orang. Di Madura, daerah Silo dan puncak gunung angin tersebut. Barangkali sebuah mitos. Yang sampai saat ini belum ada yang sempat mengetahui secara jelas.

Sekali lagi, kami bukan Soe Hok Gie. Barangkali sudah berubah era. Entahlah, mungkin kami hanya bagian kecil dari yang terkecil di alam ini. Yang sudah lelah bersetubuh dengan kehidupan kota yang tengik. Dan sudah barangtentu kami bukan aktifis pecinta alam, bukan aktifis lingkungan atau sejenisnya. Sebut saja kami para kaum tanpa bendera yang sedang bercita-cita mendaki gunung. Bah.!!

Awal mula saya jenuh. Kehidupan hanya disesaki oleh kemunafikan. Betapa tidak, setiap hari saya disuguhi tontonan kemunafikan. Berteriak hidup rakyat, tanpa tujuan yang tulus. Niat baik, belum tentu baik pada seseorang. Belum lagi jalan yang ditempuh cukup ranum. Jalan pintas di anggap pantas. Cukup lah saya petakan nasib ini sendiri. Tentu, saya memang orang yang tahu dan tempe. Bisanya cuma nulis. Tulisannya busuk pula. Tak jelas. Ya, tak jelas. Tapi setidaknya saya telah melakukan cita-cita hati. Hina bagi saya jika harus bertekuk lutut pada sebuah dogma yang cenderung memaksa kehendak. Tak jelas pula. Saya pingin misuh saja, pada jas mereka yang gagal terbilas. Semakin hari tubuh ini semakin menua, bernafas terasa sulit. Maka ijinkanlah saya menguntai syair Sutikno W.S, untuk kesekian kalinya “Tangisilah kehidupan yang kuncup-kuncupnya diserap kepalsuan. tapi jangan tangisi kami orang-orang tersisih tapi tidak kehilangan hati”.

Hanyalah saya yang bisanya cuma ngopi-ngopi, cangkruk, baca buku, mencatat, main game dan kadang kejam pada diri sendiri ini, selayaknya ditampar. Atau bahkan kalau perlu di kotak petikan saja. Mungkin almarhum W.S Rendra kejang-kejang di dalam kubur melihat tindakan saya yang sok nyastra, padahal saya tak ngerti apa itu sastra. Soe Hok Gie barangkali mencak-mencak jika masih hidup. Terlalu kecewa dengan sebuah catatan busuk saya yang tak jelas, yang tak penting dan mungkin juga tak berguna. Sementara petani banyak yang tertindas, penggusuran ada dimana-mana, kekerasaan atas nama agama kian marak, kemiskinan, ketidakadilan dan masih banyak penindasaan yang lainnya. Sedangkan saya hanya bisa mencatat, baca buku, main game, ngopi dan kegiatan yang tak jelas lainnya. Satu lagi yang ketinggalan, saya suka masuk kamar dunia maya.

Sudah tentu, banyak yang marah atau terganggu dengan ulah saya. Apalagi pada sebuah catatan yang saya pampang di dinding pesbuk. Mas Pram mungkin kecewa dengan saya. Sabdanya “Jika usiamu tak sepanjang duniamu, maka sambunglah dengan tulisan”. Terlampau tak jelas saya gunakan. Ampun mas, ampun.!

Kembali ke sebuah gunung. Kami pun sengaja menginap di sebuah tepi sungai. Selayak merenungi nasib, yang masih remang-remang. Menyalakan api unggun, berharap tak kedinginan. Bukan pemuda yang hebat, tak berdiskusi, tak baca buku. Tapi yang perlu diketahui saya terus meng-eja diri. Teringat ketika baca buku, membaca teks-teks Albert Camus sangat menggugah. Tulisan yang ia tulis sejak usia 22 tahun itu. Dari Camus pulalah lahir kesaksian -katanya-. Tentang bagaimana merawat kualitas tulisan dengan menjaga kualitas diri yang harus diberi jarak dari dunia kemewahan bojuis (dalam bahasa Camus), katamu.

Di tepian sungai pada sebuah gunung pula, saya terus mencaci diri. Ternyata harus terlebih mengalahkan diri sendiri, sebelum berjalan kembali untuk berbuat sesuatu yang bermutu. Pada sebuah batu saya menulis “Aku hanyalah musuhku”. Tak sebatas itu, dalam keadaan dingin juga saya mengingat teks bacaan Sidharta Gautama. Sebuah cerita pengasingan. Dalam ceitanya Sidharta harus mengakui bahwa pengasingan bukanlah sebuah jalan untuk mencapai jawaban. Tuhan hadir katanya, justru pada tiap diri kemanusian. Tapi dalam tingkatan tertentu pengasingan ialah suatu jalan. Setidaknya sebagai medium untuk mengambil nafas panjang, sebelum berjalan kembali pada jalan yang tak berujung dan retak dimana-mana ini. (Zaki).

Pada pagi hari, saya terus bergeming. Pada malam pula saya telah salah masuk kamar. Intinya tetap, saya berada di tempat yang tak tepat. Terjatuh pada lubang, lubang yang sangat dalam. Harus tercaci diri ini jika kelak mampu keluar dari lubang kepalsuan. Dimana sebuah kebenaran tak butuh persekongkolan. Dimana kebenaran hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang harus tertunda untuk terbukti.

Saya telah malu pada kemaluan ini, jika kelak sebuah ketulusan gagal saya cipta. Entahlah apa kata orang.!

Juni 2011.
Ditemani lagu bang Iwan Fals “Yang Terlupakan”. !

Iklan

One response to “Disebuah Gunung;Penuh Malu dengan kemaluan.

  1. hadaaahhh, hari minggu kemarin saya juga sempat ke gunung baban mas, mengendarai sepeda motor. Penasaran karena ada kerabat yang bilang pemandangan disini ciamik… Tapi, yang saya dapat hanyalah capek! Hahaha… Sempat nyasar juga dengan track yang gila-gilaan. Tapi gak papalah, buat pengalaman… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s