Sebuah Catatan Nyampah


Ada yang sulit untuk di hentikan, katakana saja hal itu keinginan. Seperti saya yang sedang dilanda kasmaran yang terlampu hebat. Bagaimana tidak, saya telah jatuh cinta pada yang bernama bikin website. Tak semudah yang saya bayangkan. Tak sesingkat ketika kita mendaftarkan identitas disebuah jejaring sosial macam facebook atau lengkingnya kicauan burung “twitter”. Jauh hari saya semakin jenuh saja. Jenuh dengan segala bahasa pemograman. Ingin rasanya membunuh diri saja. Tapi kata seorang kawan “sebesar apapun keinginan, pasti akan terkalahkan dengan ketertundaan”.

Pada dasarnya sayapun tak begitu paham dengan bahasa pemograman dan segala tetekbengeknya tersebut. Saya berpikir, kenapa harus sesulit ini. Bah, apa karena saya tak bisa ya? Setiap malam dan setiap waktu, saya mencoba menjelajahi dunia maya ini. Hasilnya selalu sama, masih belum bisa. Nihil, kosonglah. Masih berkutat di sebuah lubang yang sulit saya untuk keluar. Kapan saya bisa.!

Sebuah blog demi blog sudah saya kunjungi, pada layanan informasi yang lainnya pula sudah saya kencani. Terlalu ribet, seperti pingin kencing saja. Otodidak sih. Saya sebenarnya salah satu orang yang tak percaya bakat. Kata pepatah lama entah pepatah apa ini berkata “dimana ada kemauan disitulah ada jalan”. katanya. Apa karena halnya saya yang terlalu hina dan terlampau bodoh. Barangkali iya. Gagal berkompromi, mencoba pergi ketempat ngopi. Tapi setidaknya saya masih bisa mencatat, membaca dan berbagi. Okelah kalau begitu saya sudahi dulu dengan pergi kesebuah gunung. Dari pada saya ikut penyamun, atau berdemonstran bertriak lantang hidup rakyat, tapi keparat. Sungguh bangsat.!

Di sebuah gunung, kepenatan memudar. Bukan kaum hedon maupun pemuda macam Soe Hok Gie. Sebut saja, saya sudah lelah dengan kehidupan kota. Sudah jenuh pula dengan kemunafikan yang terlanjur tengik digagas. Saya juga tengik. Tengik sekali. sekali lagi tengik. Tapi bolehlah saya meminjam sedikit kata penyair lekra Sutikno W.S. “’Tangisilah kehidupan yang kuncup-kuncupnya diserap kepalsuan. tapi jangan tangisi kami orang-orang tersisih tapi tidak kehilangan hati”. Duh, saya lupa bagaimana dongeng sikancil mencuri timun.

Tak dapat diganggugugat apa yang telah di manifestasikan M.Lubis ada benarnya “Manusia Indonesia manusia yang munafik dalam hal tertentu”. Berkata anti kapitalis tapi berlangganan dengan makanan kfc. Cuih. Mari kita mencoba menjadi konsumen yang baik bung. Stop berkoar-koar, tanpa tujuan yang tulus. Betul, kebenaran bersifat sementara. Benar kebenaran persepektif dan masih betul juga kebenaran banyak definisi yang lainnya. Tapi ingat, kebenaran tak butuh persekongkolan. Tak butuh.

Bukankah bung Sawo Jabo pernah bersabda “pemberani sejati bukan ia yang berteriak di banyaknya orang, tapi pemberani sejati ialah ia yang mampu berbisik diantara orang-orang yang diam”. Begitulah sabda tersebut sekiranya. Pernahkah kita berteriak tulus dengan mengatasnamakan kemanusiaan. Selalu kebijakan, yang ekornya politik “tai kucing”. Hoi, dimana kita saat Sumiati dihajar sampai sekarat oleh majikannya di Arab Saudi. Dan dimana posisi kita saat biadabnya komunitas yang membantai manusia di Jawatengah, atas nama agama. Sungguh kita bisu, pura-pura tak dengar, atau bahkan kita takut, apa terlibih tengik kita tak mau tau. Kita terlalu bengis, bertindak tanpa suatu ketulusan.

Teringat pula saya pada nama Umba Karna, seorang pemuda yang menjadi korban piciknya alibi Rahwana. Dengan dalih membela bangsa. Jika saya karna, sekarang juga saya ludahi mulut Rahwana, yang memperalat Karna dengan suatu kehormatan kalimat “berjuang demi bangsa”. Berjuang harus jauh dari kepentingan pribadi. Bukan konspirasi busuk atas nama eksistensi. Tengiklah.

Pada sebuah pilihan, saya memilih sebuah pilihan yang se-ide. Selalu rendah diri, meskipun tak lihai mencari eksistensi atau sensasi. Saya juga ingin muntah, ketika kemarin saya mendengar seorang kawan yang kegirangan karena berjuang lalu diliput oleh tipi. Sekali lagi saya tak butuh eksistensi. Barangkali sudah berubah era, eranya kaum pencari sensasi. Kok tak jadi selebritis saja mereka ya? Kalau saya lebih memilih bertepi, mendiskusikan diri di sebuah warung kopi. Dari pada berteriak, ternoda oleh saling tunggang menunggang. Sekecil apapun tunggangan itu ialah kepentingan pribadi. Bahasa ilmiahnya entahlah.

Diam diam melawan. Yang berteriak oh, ternyata sekawan. Jika boleh saya sedikit mendiskripsikan catatan mas Ifan Adriansyah Ismail yang berjudul “Sandiwara mahasiswa” di sebuah web karbonjournal.org. Mungkin begini sepintas ceritanya. Terdapat dua mahasiswa Ical dan Acil. Ical yang sosok idealis dan anti kemunafikan. Sedangkan Acil yang mahasiswa linier, namun bangga pada bangsa. Pada obrolan mereka berdua, Ical sangatlah mendominasi obrolan. Maklum sosok yang seperti aktipislah. Wacana oke, retorika mantab pula. Adalah sosok Ical. Sedangkan Acil, hanya serpihan kecil yang (dalam ceritanya) terkesan linier. Mahasiswa sebagai agent perubhan ditelan mentah-mentah begitu saja. Kebesaran baju maha-mahanya siswa di anggap murni begitu saja. Tanpa mengeja kembali. Tapi Ical sangat dalam memasuki dunia sejarah mahasiswa. Singkat cerita, ketika obrolan akan berakhir tiba-tiba ada sosok orang yang berpakaian necis, memanggil mereka berdua. Ical yang anti kemapanan dan Acil yang linier mendapat sebuah tontonan gratis. Banyak makanan pula. “wah, asyik itung-itung buat sarapan siang gratis”. Kata Ical yang idealis tadi. Begitu sekiranya.

keparat itu saya, yang sebisanya selalu mencatat, membaca dan bercita-cita membuat website. Berharap mampu berbuat dengan sebuah oret-oretan. Tapi setidaknya saya telah tak berpuas diri untuk selalu mencaci diri sendiri. Setidaknya pula, saya selalu bercita-cita untuk mengalahkan diri ini. Bagi keparat macam saya ini, mengalahkan diri sendiri terlebih harus dilakukan sebelum berbuat yang bermutu. Pemalas itu pula saya, yang gagal berkompromi dengan segala hal kemunafikan bertameng keberjuangan. Pada otak dedel ini pula dilahirkan dengan telanjang, yang tak ingin mati tanpa sebuah cerita. Akhirnya meminjam sabda bung Pramoedya Ananta Toer “jika usiamu tak sepanjang duniamu, maka sambunglah dengan tulisan”. Bukankah yang tertulis tak akan pernah mati, saya akui itu.

Biarlah diri ini terasingkan, memeluk diam dengan keramaian. Tanpa kepalsuan saya akan hidup. Tanpa embel-embel. Kadang saya berpikir ingin menulis sampai mati. Pada sebuah shubuh saya pernah berikrar “meski kau ludahi aku, aku akan tetap menulis”. Pada catatanlah kita selalu jujur. Dan pada catatan busuk ini pulalah kesaksian hidup saya lahir. Entah sebagai wujud apa. Boleh anda sebut dengan cacatan busuk seorang banyak bacot.

Juni 2011

Iklan

4 responses to “Sebuah Catatan Nyampah

  1. hhmmmm sangat setuju dengan kata” terakhir
    “pada catatanlah kita selalu jujur”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s