Sebuah Lelucon,Tipi dan yang sekedar tepe-tepe.


Pagi hari ini saya luangkan waktu untuk sekedar ngopi. Dari pada putar chanel tipi, paling paling juga tayangan kisruh PSSI dan peristiwa kaburnya tersangka korupsi di negeri yang –katanya- besar dan kaya raya ini. Dan yang tak ketinggalan, riuhnya perpolitikan yang tak karuan yang semakin hari kian tengik. Hadeh, coba jelaskan besar dan kaya raya apanya? Duh, rupanya saya ingin bercerita soal lain. Ya beginilah, kalau jadi orang yang banyak bacot macam saya. Aiih.

Ada gerakan melawan lupa, sebut saja gerakan itu membaca. Tadi malam saya sempatkan membuka dunia internet. Wah terdapat bacaan yang sangat menggugah. Semacam website karbonjournal.org salah satu dari beberapa juta web yang –saya kira- layak di kunjungi. Jangan ge-er, saya enggak bermaksud untuk mempromosikan. Website ini –menurut saya, dan meskipun saya belum sempat menemui langsung orangnya- website yang bergerak dalam bidang sosial, gerakan penataan kota, penataan publik dari samping, dan juga masih ada yang lainnya. Coba anda bayangkan, siapa sangka ternyata masih banyak hal yang harus kita benahi dalam kesehrian kita yang gemar menonton tipi. Dari awal sih, saya memang tak suka pegang remote tipi, lebih baik ngopi dari pada hal itu. Eh, bukan berarti saya antipati terhadap tontonan tipi loh. Anda boleh kerkilah, dalam hal ini.

Jika tontonan tipi lebih bagaimana mereka dapat di gandrungi banyak pemirsa, bukan menitik tekankan, bagaimana mencerdaskan, saya kira itu bahaya bung. Kalau hal ini sudah terjadi, yang hadir ialah untung dan rugi berapa di ke esokan hari. Bukan berarti saya sok cerdas, kalau boleh jujur saya tambah bodoh jika memilih menonton tipi semisal truck cinta-lah, mendadak artis-lah, dan sejenisnya-lah. Apaan itu, memang dunia sudah terjungkirbalik-lah. Tayangan musik, yang terus menerus hadir menyapa para pemirsa. Wah, sampai sampai keponakan saya harus menghapal lirik lagu sebuah band yang sedang berada di atas tangga. Harus rela lupa apa tadi pelajaran yang di dapat sewaktu sekolah. Opera panjapa, sebuah tayangan yang humor dan sangat menghibur. Seorang pemeran harus menghibur dengan menertawakan dirinya sendiri dan ditertawakan orang lain (dalam konteks ini pemirsa). Berkilahnya sih, demi tuntutan peran. Peran apa coba? Hah, tontonan apa ini? Sirkus tanpa kepala. Duh bang, kayaknya saya mau pindah beranda deh.

Pada saat malam hari, saya kedapatan sms. Intinya sih sms tersebut mencaci saya, yang lebih gemar membaca dunia internet dari pada eksis di dunia sendiri –nyata-. Ehem, baiklah saya memang tak berguna. Tapi bagi saya internet salah satu media, coba jika ada orang yang ingin membendung laju internet, ketemukan saya dengan orang tersebut. Padanyalah kelak saya mengabdi. Eh, apa masih ada yang gak lupa ya dengan peristiwa Prita. Pernah terjadi peristiwa besar dimana parlemen online dapat berbuat. Pada saat itu pula, saya tidak menemukan kelompok yang turun jalan demi sebuah arti kemanusiaan. Demonstran (meski tak semua) hanya gemar aksi yang ujung ujungnya politik yang terlampau “tengik”. Saya gak bisa bayangkan, bagaimana nasib awak kapal kudus yang di sandera perompak Somalia tanpa ada media komunikasi. Tak usah ngaling, internetpun salah satu dunia komunikasi.

Salah satu teman yang sms saya tadi sebenarnya memang benar. Wong ke warnet jika hanya ada tugas nguliah saja, chatingan pesbuk, dan hanya sekedar iseng isengan. Aih, apalah kau ini?Ahh, saya dari tadi ngomong apa sih?

Cukuplah kiranya Norman Kamaru yang naik daun via internet dengan lagu chaiya-chaiya-nya. Bawaan lagu asing lagi. Mungkin nasib baik yang menghampiri duo keong racun “Shinta-Jojo”. Dua hal tersebut sempat di alami oleh beberapa teman saya. Dengan cara membuat ala Norman dan Duo keong racun, berharap nasib baik menghampirinya. Ironisnya hal tersebut sebuah tugas dari salah satu dosen teman saya. Aduh, kalian ini ngapain sih?. Hal ini menunjukkan bagaimana media mampu merubah mainsed manusia. Nyoba kale, untung-untung bisa jadi artis. Saya pun tak habis pikir, zaman apa ini sih? Yah, itu sah-sah saja sih.

Semenjak saya di dapuk menjadi salah satu orang yang men-dewa-kan dunia maya, saya semakin bergumam. Apa persepsi mereka dengan dunia internet. Ngenet pesbukan mulu sih kalian ini. Mengunjungi website yang berguna lalu membacanya, jika mampu anda juga bisa mengaplikasikannya, dalam konteks itu positif. Wah, saya lupa tidur.

Jauh hari, saya punya cita-cita membuat website. Loh kok saya juga kesurupan ikut ikutan ya,? Tidak begitu, mencoba berkarya, dan berguna dengan media luar. Saya kira anda anda sekalian paham, selayak apa dunia internet dipergunakan. Bukan sekedar –meminjam bahasa anak muda- tepetepe (tebartebar pesona). Wow.!
Bukan apa sih, bukan saya benci pada tipi. Kata leluhur, saya dilahirkan waktu belum marak dunia tipi.Dan semoga saja saya tak mati di depan tipi. Ngopi dululah. !!

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s