Sebuah Jas yang Gagal Kita Bilas.


“Wah, sebentar lagi beasiswa akan turun, asyik kalau nanti saya dapat, saya akan beli hape baru”. Ungkap seseorang.
“kalau saya sih, jika dapat beasiswa pasti gak menerima semua uang itu, tapi jika ada sisanya saya mau beli baju dan celana”. Sahut seseorang yang berada di sampingnya
“Eh, saya juga ngajukan beasiswa loh, tapi seandainya dapat pasti habis di pembayaran, saya masih punya tanggungan banyak yang belum bisa saya lunasi”. Celetup salah seorang dari mereka.
Aduh bang, sore itu saya sedang galau. Kemudian saya pergi kesebuah tempat ngopi. Sesampai di warung kopi, saya secara tak sengaja mendengar obrolan beberapa kaum intelektual. Nah, kalimat diatas kira-kira bunyi obrolan tersebut. Hemat saya, dari obrolan itu dapat di pamahi mana yang benar benar membutuhkan dan mana yang hanya sekedar asal asalan.
Tak dapat di ganggugugat, obrolan beberapa kaum intelektual tersebut menggambarkan ada beberapa gerbong lokolori yang tak berjalan sesuai dengan relnya. Andapun tak usah bohong, pastilah pernah anda ketemukan orang orang semacam mereka, terlibih anda mahasiswa. Saya tak habis pikir, jika peristiwa tersebut terjadi pada seseorang yang –ngakunya- aktivis. Mentang-mentang aktivis, semua hak menjadi haknya. Padahal dilain sisi, masih begitu banyak orang yang juga mempunyai hak. Pada ranah ini cenderung bagaimana mementingkan pribadi maupun golongan. Apa jadinya jika seseorang yang –ngakunya- aktivis yang tak dapat bagian lalu tak terima, pada kemudian hari mengerahkan masa untuk sekedar mencak-mencak. Aih, dunia macam apa ini?
Yang membuat gelisah berlipat ialah; seseorang yang ngakunya aktivis, pagi hari berteriak pada sore hari di jamu disebuah rumah makan mewah. Otak kiri kantongpun kanan. Belum lagi pada wilayah nguliahnya, agar mendapat nilai A,B,C dan seterusnya kadang rela menggadaikan idealismenya. Di lain hari berteriak hidup rakyat, dilain hari pula waktu ujian nyontek. Pendidikan hanya di ukur dengan nilai A,B,C dan seterusnya, maka tengik semua. SI,SII,SIII dan jika ada S yang lainnya, hanya di anggap atau digunakan sebagai batu loncatan untuk menggapai sebuah kemapanan. Buat apa nguliah?, Lebih baik pergi dari pada menggadaikan diri.
Disisi lain, banyak keretakan dimana-mana ini. Tak jarang seseorang berani berbuat keculasan terhadap sebuah demokrasi kampus, dengan dalih kacangan “menyelamatkan nama baik sesuatu”. Alih-alih menegakkan tiang demokrasi bangsa, tiang demokrasi kampuspun di belokkan kemana-mana, dengan mengatasnamakan kesepakatan bersama. Bagi saya, kejujuran itu harus, terlalu lugu itu bodoh. Keculasan dianggap sudah wajar, demi kebaikan bersama. Coba jelaskan dari segimana yang baik. Lantas apa guna, berkumpul, berdiskusi, berteriak hidup rakyat, jika hanya ingin memperkaya diri, pro kemapanan dan dalam ketidak sadaran pro status quo. 
Mei, 2011
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s