Monthly Archives: Juni 2011

Tentang Kemelut Bola Liar PSSI.


“Catatan ini memang tertunda, saya kira juga tak apa. Kepada semua yang mengaku ingin menjadi orang atau kelompok yang bertujuan memajukan sepakbola tanah air. Selama Revolusi PSSI orientasinya kekuasaan, maka kalian busuk semua. (Kegagalan apa lagi yang akan kalian sukseskan)”.

Saya memang tak pernah bermain-main dalam hal cita-cita. Seperti cita-cita saya yang ingin sekali menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Ah, pokoknya saya ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Berlatihlah dengan penuh serius. Waktu malam saya tak boleh lelap hingga larut, paling-paling jam 21.00, sudah mulai mapan disebuah ranjang. Pagi hari, saya sudah diharuskan bangun. Biasanya pada waktu hari sebelum sarapan pagi saya melakukan aktifitas senam, jig-jag dan sejenisnya itu.

Sore telah tiba,langit sangat cerah kala itu. seperti biasanya, aktifitas latihan main bola segeralah dipacu. Jarak antara lapangan bola dan rumah saya, tak dekat amat, tapi juga tak jauh. Saya bahkan sering berlari, jika hendak akan berlatih sepak bola. Saya seorang yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola, anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Bercita-cita ingin menjadi sepak bola profesianal. Siapa sih, yang gak mau mengharumkan nama bangsanya?

Terpampanglah photo-photo para pemain bintang sepakbola dunia dikamar saya. Tak ketinggalan pula, gambar photo gagahnya pemain timnas Indonesia yakni Bambang Pamungkas. Ya, dulu saya ingin seperti Bambang Pamungkas. Tapi, apakah cita-cita saya dapat kesampaian, melihat kondisi bangsa kita saat ini?. Memang tak dapat dipungkiri, jika harus masuk seleksi tim harus punya orang dalam. Apalagi jika kemampuan skil pas-pasan. Tapi, cita sudah saya bentang disebuah jalan, meskipun pada akhirnya saya gagal karena melihat usia. Belum lagi realitas persoalan uang. Saya juga heran, kenapa bangsa ini penuh hal semacam ini.

Belum lagi perihal tatakelola petinggi sepakbola tanah air yang ada di atas sana, sebut saja ia PSSI, badan otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Coba kita lihat pada gelaran piala AFF 2010 kemarin. Penampilan Irfan Bachdim dkk, sejatinya bukan perwakilan suksesnya PSSI. Amburadulnya system penjualan tiketlah yang menunjukkan belum siapnya pihak terkait menyelenggarakan pertandingan bertaraf internasional. Nurdin Halid yang menjabat ketua PSSI kala itu, menunjukkan kegagalan yang kesekian kalinya. Nurdinlah yang layak kita katagorikan penguasa otoriter PSSI. Orde dualisme liga, dengan lahirnya liga tandingan macam LPI gagasan Arifin Panigoro.

Pada akhir jabatannya pula Nurdin Halid masih ingin ngotot menduduki jabatan ketua umum PSSI. Entah, kegagalan mana lagi yang akan dipersiapkannya. Sungguh tak malu. Kengototan Nurdin Halid sempat membuat gaduh publik. Sehingga FIFA yang merupakan otoritas sepakbola tertinggi di dunia harus membuat komisi normalisasi. Yang mana Agum Gumelar lah terpilih sebagai ketuanya. Tak sebatas disitu, serakahnya beberapa pihak turut memperburuk citra sepakbola Indonesia di mata dunia. Ini terlihat kisruh yang terjadi di beberapa konggres PSSI. Kelompok-kelompok tertentu yang hemat saya tak paham betul tentang sepakbola. Jika revolusi PSSI orientasinya ialah kekuasaan, maka hanya omong kosonglah mereka semuanya.

Saat ini sepakbola tanah air sedang berada pada titik nadir. Belum terpilihnya ketua PSSI yang baru, membuat Indonesia terancam sanksi. Pemerintah harus bijak dalam mengambil sikap. Jangan interfensi atau malah acuh terhadap persoalan ini. Apa yang harus dilakukan, duduk bersama, berpikir kedepan dan stop perebutan kekuasaan. Toh, sepakbola Indonesia bukan milik golongan. Saya kian tak paham apa maksud dan tujuan kelompok yang mengatasnamakan 78. Sebuah perubahan bukan perebutan kekuasaan, sepakbola tanah air harus jauh dari orang-orang yang tak paham aturan sepakbola. Belum di rumput hijau lapangan, dalam rembug saja mereka sudah jauh dari fairplay.

Sudah saatnya sepakbola tanah air jauh dari orang-orang macam Nurdin Halid dan yang serupanya. LPI jelas lahir karena ketidak puasan, atau merasa tidak percaya oleh orde Nurdin. Akan tetapi, kelahiran LPI seharusnya juga harus kita pertanyakan, seperti halnya kelompok 78 apa itu arti sepakbola yang menjunjung tinggi sportifitas. Kemelut bola liar yang disebabkan oknum yang tidak bertanggungjawab membuat timnas kacau balau. Ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak saling memahami. Dan dari kemelut PSSI inilah sepakbola Indonesia terancam sanksi dari FIFA.

Akhirnya semua pihak harus sadar diri. Sebentar lagi timnas senior Indonesia akan berlaga pada babak pra Piala dunia 2014 nanti, dan timnas U-23 yang akan berlaga pada kejuaraan Sea Games 2011 yang sebentar lagi digelar. Jika FIFA menjatuhkan sanksi bagi Indonesia, maka harapan tersebut akan gagal seluruhnya. Belum lagi pada klub Persipura Jaya pura yang sedang Berjaya mengarungi AFC cup, dan akan berlaga pada Liga Champhions Asia mewakili Indonesia. Sekedar pertanyaan, jika FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, masyarakat penggila bola jelas yang dirugikan. Siapa yang akan bertanggung jawab?

Renungkan.!

Gambar dari;google

Juni 2011

Pusing; akhirnya saya ngeblogging.


Saya harus mengaku bahwa membuat sebuah website itu ternyata agak susah juga. Sudah terlampau banyak sebuah informasi pembuatan website yang saya kunjungi. Hasilnya pun masih sama, saya kagak bisa. Tujuan saya bukan apa, hanya ingin bisa membuat website itu saja. Titik. Banyak kawan yang menyarankan saya untuk langsung datang ke sebuah layanan pembuatan website, aduh tapi maaf saya tidak butuh saran kawan tadi. Bahkan, ada seorang sahabat yang juga menyarankan saya untuk memperhentikan keinginan saya membuat website, tapi toh akhirnya saya mentahkan juga.

Baiklah saya buat sebuah blog pribadi saja.!

Awalnya kenapa saya ngotot membuat website, saya harus mengaku bahwa saya suka menulis catatan. Tapi saya bukan penulis yang tekun, hanya saja sebuah hobi keseharian belaka. Mungkin saya memang bukan seorang penjelajah internet yang mahir, segala hal bahasa pemograman di internet tak dapat saya terjemahkan seluruhnya. Saya harus lari kepada siapa? Saya bingung, dan pada bloglah saya mengadu. Blogger sebuah tempat dimana saya melemparkan sebuah tulisan busuk saya. Begi saya pula bloggerlah yang mudah dipahami dan pelan dalam membimbing pengunjung dan penggunanya. Anda juga pasti sedih, jika melihat cepatnya lajur internet dewasa ini, belum satu hari paham betul sebuah layanan situs, langsung saja ada hal yang baru. Blogger bukan tanpa pembaharuan, saat ini saya sudah berhasil menemukan terobosan baru yaitu Vlog atau Vivalog. Sebuah terobosan cara mempromosikan blogger yang hemat saya dalam hal pembaharuan tampilan fiture dan memudahkan para pengunjung blog anda. Saya tidak akan mengulas panjang hasil darimana Vivalog tersebut. Yang jelas saya mendapatkan informasi tersebut dari sebuah blog yang bernama PHYLOPOP.com. Silahkan jika sudi anda para pengguna blogger untuk berkunjung.

Harus saya akui, sebelum membuat blog saya memang penikmat internet yang tidak konsisten. Ada berapa banyak situs layanan model blog yang sudah saya setubuhi. Sebut saja wordpress.com dan sejenisnya. Tapi mula-mula saya nyadar, bukan soal situs apa kita dapat berkarya, melainkan ketekunan kita dalam hal perawatan kita menjaganya. Dalam artian, apapun situs kita yang penting baik dalam hal perawatannya. Jika ngeblog, tentu saja keproduktifitasan karya kita masing-masing.
Nah, seharusnya saya nyadar dari dulu, bahwa bukan dari sebuah situslah kita dapat berbuat. Melainkan ketekunan kita dalam hal perbuatan. Hari-hari ini saya lebih focus pada penggarapan blog saya. Dari pada saya terus menerus bertengkar dengan segala hal pembuatan website. Tapi tunggu dulu, saya tak akan menyerah dalam hal membuat situs website.

Kadang saya tersesat. Saya berkunjung kesebuah situs website yang agaknya berbeda haluan dengan tujuan saya. Dangkal sekali mouse komputer saya ini ya?. Saya bingung, harus berkunjung ke situs website mana jika sedang berselancar di internet. Di tengah-tengah keseriusan untuk membuat website, saya malah diterpa mosi tidak percaya oleh kehadiran banyak situs. Akhirnya mause komputer saya tertuju pada website Literasi.com, sebuah gerakan cybers yang mengulas tentang banyak hal. Tampilannya simple dan membuat mata krasan dan muose komputer asyik menari-nari. Tulisannya gurih, bagaikan krupuk dimakan digunung Semeru. Nah, saya juga menemukan sebuah situs website yang serupa yaitu karbonjournal.org, jelasnya silahkan arahkan panah mouse komputer anda ke situs website yang telah disebutkan tadi. Tentunya masih banyak ribuan website di luar sana.

Banyak saya jumpai sebuah situs website yang salingberbagi. Saling berjabat-jabat untuk sebuah informasi. Dengan hampirnya saya putus asa membuat sebuah situs website, saya harus menunda dahulu dengan tekun menyirami blog saya di pagi hari. Bukan tidak mungkin, saya lebih nyaman bersama blogger. Iya bukan?.

Juni, 2011

Gambar;dari Google

Berselancar di Blogger Saja Ah..!


Pagi hari ini saya sempatkan untuk menyeduh secangkir kopi. Dan tentu saja dibarengi dengan berselancar di dunia internet. Beberapa hari ini saya cukup bingung dan jenuh. Betapa tidak, saya telah di buat berpikir miring atas pembuatan sebuah website yang dari dulu terasa sangat membingungkan bagi saya. Sambil memainkan anak panah mouse komputer saya nikmati secangkir kopi dipagi hari. Oh, mengapa saya tidak nimbrung dan melempar kata-kata indah di fecebook saja ya, dan atau kenapa saya tidak bercek-cok dengan bisingnya kicauan burung twitter diatas sana? Tafsir saya anda mau menawarkan jasa anjuran tersebut untuk saya. Tidak, suer saya sudah tak punya nafsu untuk nimbrung di duo jejaring sosial tersebut.

Tapi saya sesekali masih sudi mengunjungi dua jejaring sosial tersebut. Meskipun kemarin saya mendapatkan sebuah laporan dari teman saya yang di hujat seseorang, karena salah komentar pada status orang lain di akun facebook. Duh, kasian dech loe!. Facebook atau twitter, sudah tak asing lagi bagi ruang publik. Hal ini yang membuat banyak orang sering mengalihkan waktunya ke ruang maya tersebut.

Sering saya jumpai, para teman facebookers malah saling cek-cok di sebuah status. Melempar kata-kata perang di ruang maya bisa mengakibatkan malapetaka. Saya malas menghitung, sudah berapa kali peristiwa besar terjadi di dunia maya. Baru-baru ini Om Norman yang melejit namanya, entah esok siapa?

Tapi kenapa saya lebih enjoy berselanjar dengan situs blogger. Sudah barangtentu anda mengganggap saya orang jadul. Yah, itukan urusan anda, tapi juga urusan saya. Tapi perlu diingat sebelum facebook dan twitter dilahirkan Blogger lah yang sedang meraja. Menurut data valid keyakinan saya, para blogger sudah berpindah kelain hati ke ruang samping macam facebook dan sejenisnya. Ada berapa jejaring –yang malas saya menghitungnya- yang kegunaannya hampir mirip seluruhnya. Lempar status, dibalas dengan komentar. Saya mengakui budaya jelajah ruang maya sudah mulai menurun.

Dipagi ini apakah masih ada yang sudi mengunjungi sebuah website. Tadi malam saya kebingungan untuk memolah sebuah blog saya. Jujur, saya bingung harus lari kemana. Akibat terdampar di sebuah website saya menemukan sesuatu. Sesuatu tersebut adalah Vlog di Vivanews.com, dimana para blogger dapat berselancar lebih jitu. Sudah selayaknya kembali pada jalurnya, menulis di blogger merupakan salah satu aktifitas ruang maya yang bagi saya nyaman sembari menyeduh kopi. Saya juga tak paham mengapa status harus dibalas dengan komentar.

Juni 2011

*Gambar dari google

Ngopi Bung.


Malam yang dingin dan hening pula, badan gemigil denyut nadi tak lagi sahabat dengan detik dentangan jarum jam. Pikiran kemana-mana, seperti halnya di buru binatang anjing.Sontak kepikiran cinta, yaitu kopi.

Ngopi, ayo ! budal, nada seksi itu berlalu begitu saja ditelinga.
Ngopi lagi, ngopi lagi. Lagi-lagi ngopi, dan ngopi. Dari kontrakan sampai ke warung kopi. Hutang berceceran, putung kretek berserakan, dari kamar kontrakan sampai depan ruang senggang. Sampai kami tak tau, harus dimana kami letakkan semua itu.
Jika waktu senggang kami pasti berada di warung kopi. Tapi, kami pastikan ada waktu senggang untuk namacinta kita bersama ternama “kopi”. Kami lebih memilih minggir di jalan dan berhenti di sebuah warung kopi, maklum duit tak cukup bila harus di gedung megah itu. Tak apa, jika kami tak di anggap anak gaul. Penampilan srampangan, kadang sandal jepit tak lagi berpasangan. Baju lusuh sisa pelukan di pagi senja.

Ng(u)liah dan ng(o)pi. Jangan di sikut-sikutkan karena mereka enggan untuk di pisahkan. Warung kopi pak pojok ialah tempat kami bersenggang jika waktu malam, kopi ibu belakang gor jika pagi menyapa. Tempat-tempat tersebut sudah menjadi keluarga yang tak dapat di pisahkan bagi kami. Waktu tak amat banyak, kami selalu berpegangan dengan erat.

Malam itu malam minggu, anak gaul masa kini menyebutnya dengan malming. Kami hanya ngopi, jika waktu luang. Di warung kopi pojok dekat lampu merah, kebiasaan kita habiskan malam. Terlihat anak muda-mudi berceceran dan berpasang-pasangan, tak jelas entah hendak kemana. Sama-sama tak jelasnya dengan kita. Kerap kali berpatungan, isi saku hanya cukup buat sarapan pagi. Biarlah kita bercinta saja dengan kopi pahit itu. Tak dapat di pungkiri jika jumlah kopi tak lebih banyak dari kami. Toh, secangkir kopi di gilir rame-rame.

Tak luput, kami bercakap-cakap. Mulai dari yang lebay sampai juga dari ranah yang alay. Ini memperkuat bahwa semua pihak berhak berpendapat. Mungkin kopi tak bisa lepas dari diri penulis macam Andrea Hirata, sesampailah lahir cerita “Cinta Dalam Gelas”. Kopi tak terhindar dari gelas atau cangkir. Begitupun kami, yang tak mau berpisah dengan elemen kopi tersebut.

Kopi yang konon katanya senyawa alkaloid yang berfungsi membalikkan senyawa adenosin. Senyawa adenosin kabarnya ialah senyawa yang dapat mengundang efek “Malas”. Ah, itu hanya konon katanya. Jangan ragu, itu hanya intermezzo belaka. Maka tak harus takut kita untuk berngopi. Efek malas?, maka kita jangan malas-malas untuk sekedar ngopi.

Siapa yang tak kenal dengan kopi. Dewasa ini, kopi identik dengan seniman bernama Mbah Surip (alm). Pengagum kopi dan kretek ini terkenal sebagai pencipta lagu “bangun tidur”. Pada beberapa lirik lagunya, terdapat jamak di jumpai kata-kata ngopi. Ini menggambarkan bagaimana (alm) mbah Surip begitu mencintai kopi. Mungkin saja, jika mbah Surip masih ada, bukan tak mungkin akan tercipta nada-nada kopi tersebut. Ini menunjukkan dalam tingkatan tertentu kopi hadir sebagai sang inspirator.

Ngopi lagi, ngopi lagi. Hangatnya secangkir kopi membuat gairah dalam hal tertentu. Membuat pikiran bisa tenang sejenak, pelepas lelah dan kadang sebagai peredam lara. Kami mungkin telah bersenyawa dengan kopi. Kopi membuat kami menjaga jarak dari dunia kemewahan, mengingat maraknya kalengan-kalengan baru. Entah kalender mana yang mencatat lahirnya kopi.

Cinta itu kopi. Rasa manisnya menggoda, dan rasa pahitnya mengundang kerinduan yang tiada tara. Mereka berbaur senyawa saling melengkapi. Dan cinta ku tertuang dalam gelas ialah kopi, Si bibir seksi itu.

Jember 04 April 2011

Maaf saya pecinta kopi berat.


Ngopi Bung, sampai pahit.! Kalimat disamping tersebut bak sebuah nada sandi kebangsaan para kaum pecinta kopi. Maaf ini hanya buat kaum pecinta kopi. Dan yang belum mencintai mulailah untuk bercinta dengan kopi (bukan anjuran). Entah nasib apa yang menghampiri saya, terlanjur jatuh cinta pada sosok hitam kental pahit berbaur manis itu. Saya harus jujur, saat ibu dirumah sms dan tanya lagi ngapain hampir seluruhnya saya jawab dengan “lagi ngopi”. Habislah saya terus diejek dengan generasi pecinta kopi. Ibu mungkin lupa, saat saya masih kecil ibulah yang menganjurkan untuk selalu minum kopi.

Bukan.! Saya bukan pecinta kopi biasa. Dalam keadaan sadar, saya harus akui harus meluangkan waktu untuk sekedar ngopi. Aktifitas yang padat dan harus tergesa-gesa kejar setoran biasanya orang pasti meluangkan waktu untuk ngopi. Saya mengakui, dalam keadaan penat kopilah yang selalu saya tuju. Selain sebagai teman rehat.
Dan maaf saya pecinta kopi.

Bersambung.!

Juni 2011

Fesbookan; sambil menulis saja.


Tak dapat diganggugugat di seluruh penjuru dunia sudah tak asing lagi dengan yang namanya facebook. Mulai dari kaum muda sampai pula yang tua, dari pengguna juga sampai pada yang hanya sekedar pernah mendengar namanya saja. Situs jejaring sosial ini, di ciptakan oleh Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard University. Awal mula facebook, hanya di gunakan untuk wilayah kampusnya saja. Tapi, dewasa kini facebook dapat di gunakan di hampir penjuru dunia.

“hanya bikin hiburan saja mas, untuk melepas kepenatan”. Cetus Dian (bukan nama asli) saat di hubungi via chat facebook.

Beberapa tampilan sudah tersedia, para pengguna bisa menggunakan selayaknya. Akun facebook boleh di bilang cukup unik, bahkan pengguna bisa memolah nama pada setiap akunnya. Tak sedikit para pengguna facebook tidak menggunakan nama aslinya. Begitu pesatnya lajur dunia internet, sehingga mau tak mau masyarakat harus mampu memilah dan memilih mana yang dapat membawa manfaat.

Tampilan facebook banyak pilihan. Ada juga ruang untuk mengunggah photo, menulis status, cantuman kekerabatan, bahkan status hubungan (lajang, menikah berpacaran) dan sebagainya. Pembuatan group juga banyak di ketemukan. Sering di bincangkan, facebook di sinyalir dapat mengetahui karakter seseorang pengguna. Bisa di lihat pada updatean status mereka, mulai dari yang sedang kasmaraan, putus cinta, kecewa, bahagia dan masih banyak lagi yang lainnya. Kadang seseorang pengguna facebook, secara sadar atau tidak melampiaskan unek-uneknya di dunia nyata pada setiap update statusnya.

Memang sering kita jumpai, akun facebook di gunakan bukan untuk personal saja. Untuk akun sebuah komunitas misalnya, yang sebagaimana dengan bertujuan agar mempermudah mengkoordinir dan enak berkomunikasi. Tak dapat di pungkiri jejaring sosial yang satu ini (baca;facebook) menimbulkan pro nan kontra. Ini tak lepas dengan semakin maraknya kejahatan yang di sebabkan para oknum yang tidak bertanggung jawab. Di lain sisi, memang facebook sangatlah riskan, apalagi jika pengguna tak menggunakan dengan semestinya maka akan mengakibatkan mala petaka. Di samping itu facebook dapat mempermudah komunikasi dengan keluarga meskipun jarak sangat jauh.

“Saya asli Palembang, sekarang bertempat tinggal di Jember, dengan adanya facebook saya dapat berkomunikasi dengan keluarga saya yang ada di Palembang”. Ucap Dani, salah satu penguna facebook.

Di tempat lain, Cak fatah juga ingin berkomentar tentang jejaring sosial facebook ini.

“Di facebook tak mengenal pertemanan jarak dan waktu, persaudaraan sering juga timbul dari facebook. Berkarya lewat facebook pun juga bisa kok”. Tulis Fatah, via Obrolan facebook.

Positiv dan negativ memang tak bisa di pisahkan. Pada facebook pula dapat kita temukan hal positiv dan negativ.

“Positif dan negatifnya sesuatu itu tergantung pada pelaku, jika menggunakannya positif maka hasilnyapun akan positif, bahkan sebaliknya”. Imbuh Cak Fatah, pengguna facebook.

Nah, facebook juga dapat kita gunakan sebagai sarana untuk berkarya. Banyak juga informasi yang didapat dari fecbook. Lomba karya tulisan dan lain sebagainya. Indonesia tercatat pengguna terbesar ke 2 di dunia setelah A.S. Dalam catatan firma strategi marketing Candytech baru-baru ini, pengguna Facebook asal Indonesia hampir mencapai 34 juta, tepatnya 33.920.020 anggota. (VIVAnews.com ,14 januari 2011).

Anda bisa menulis juga di facebook. Kolom catatan telah tersedia. Yang tak dapat di simpulkan pada fecebook ialah, saat anda login pada akun anda, tampilan pertanyaan operator facebook yang berbunyi “Apa yang anda pikirkan”. Belum sempat terjawab.

Mei 2011.

Gambar dari;Google

Disebuah Gunung;Penuh Malu dengan kemaluan.


Bukan Soe Hok Gie atau aktifis yang sejenisnya. Saya kemarin sempatkan menaiki sebuah gunung. Jalannya cukup terjal, daerah Silo Baban Timur tepatnya. Gunung tersebut bernama gunung angin. Ya, begitulah masyarakat menyebutnya. Daerah ini cukuplah terpencil, bagaimana tidak, aliran energi listrik saja belum cukup maksimum menyentuh daerah Baban Timur ini. Terlihat aliran listrik hanya menggunakan Aki, itupun disuplay dari tenaga surya. Daerah ini cukup sepi, jarak rumah antar penduduk cukup jauh.

Tak ada perjalanan yang hebat, selain perjalanan yang melelahkan. Saya dan teman-teman berkeinginan memuncaki gunung angin tersebut. Dengan mengendarai sepedah motor saya dan teman-teman bergegas menuju puncak gunung. Perjalanan yang sangat menegangkan. Coba bayangkan, jalan yang lebarnya hanya kurang lebih 3 meter, berbatu dan berliku-liku pula. Wah, selip sedikit mungkin tak pulang. Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di puncak gunung angin. Mata ini mendadak tertuju pada sebuah makam yang berada di tepat puncak gunung. Menurut salah satu teman saya yang kebetulan juga penduduk sekitar, makam tersebut keramat. Ada 3 tempat makam yang berbeda tetapi masih 1 orang. Di Madura, daerah Silo dan puncak gunung angin tersebut. Barangkali sebuah mitos. Yang sampai saat ini belum ada yang sempat mengetahui secara jelas.

Sekali lagi, kami bukan Soe Hok Gie. Barangkali sudah berubah era. Entahlah, mungkin kami hanya bagian kecil dari yang terkecil di alam ini. Yang sudah lelah bersetubuh dengan kehidupan kota yang tengik. Dan sudah barangtentu kami bukan aktifis pecinta alam, bukan aktifis lingkungan atau sejenisnya. Sebut saja kami para kaum tanpa bendera yang sedang bercita-cita mendaki gunung. Bah.!!

Awal mula saya jenuh. Kehidupan hanya disesaki oleh kemunafikan. Betapa tidak, setiap hari saya disuguhi tontonan kemunafikan. Berteriak hidup rakyat, tanpa tujuan yang tulus. Niat baik, belum tentu baik pada seseorang. Belum lagi jalan yang ditempuh cukup ranum. Jalan pintas di anggap pantas. Cukup lah saya petakan nasib ini sendiri. Tentu, saya memang orang yang tahu dan tempe. Bisanya cuma nulis. Tulisannya busuk pula. Tak jelas. Ya, tak jelas. Tapi setidaknya saya telah melakukan cita-cita hati. Hina bagi saya jika harus bertekuk lutut pada sebuah dogma yang cenderung memaksa kehendak. Tak jelas pula. Saya pingin misuh saja, pada jas mereka yang gagal terbilas. Semakin hari tubuh ini semakin menua, bernafas terasa sulit. Maka ijinkanlah saya menguntai syair Sutikno W.S, untuk kesekian kalinya “Tangisilah kehidupan yang kuncup-kuncupnya diserap kepalsuan. tapi jangan tangisi kami orang-orang tersisih tapi tidak kehilangan hati”.

Hanyalah saya yang bisanya cuma ngopi-ngopi, cangkruk, baca buku, mencatat, main game dan kadang kejam pada diri sendiri ini, selayaknya ditampar. Atau bahkan kalau perlu di kotak petikan saja. Mungkin almarhum W.S Rendra kejang-kejang di dalam kubur melihat tindakan saya yang sok nyastra, padahal saya tak ngerti apa itu sastra. Soe Hok Gie barangkali mencak-mencak jika masih hidup. Terlalu kecewa dengan sebuah catatan busuk saya yang tak jelas, yang tak penting dan mungkin juga tak berguna. Sementara petani banyak yang tertindas, penggusuran ada dimana-mana, kekerasaan atas nama agama kian marak, kemiskinan, ketidakadilan dan masih banyak penindasaan yang lainnya. Sedangkan saya hanya bisa mencatat, baca buku, main game, ngopi dan kegiatan yang tak jelas lainnya. Satu lagi yang ketinggalan, saya suka masuk kamar dunia maya.

Sudah tentu, banyak yang marah atau terganggu dengan ulah saya. Apalagi pada sebuah catatan yang saya pampang di dinding pesbuk. Mas Pram mungkin kecewa dengan saya. Sabdanya “Jika usiamu tak sepanjang duniamu, maka sambunglah dengan tulisan”. Terlampau tak jelas saya gunakan. Ampun mas, ampun.!

Kembali ke sebuah gunung. Kami pun sengaja menginap di sebuah tepi sungai. Selayak merenungi nasib, yang masih remang-remang. Menyalakan api unggun, berharap tak kedinginan. Bukan pemuda yang hebat, tak berdiskusi, tak baca buku. Tapi yang perlu diketahui saya terus meng-eja diri. Teringat ketika baca buku, membaca teks-teks Albert Camus sangat menggugah. Tulisan yang ia tulis sejak usia 22 tahun itu. Dari Camus pulalah lahir kesaksian -katanya-. Tentang bagaimana merawat kualitas tulisan dengan menjaga kualitas diri yang harus diberi jarak dari dunia kemewahan bojuis (dalam bahasa Camus), katamu.

Di tepian sungai pada sebuah gunung pula, saya terus mencaci diri. Ternyata harus terlebih mengalahkan diri sendiri, sebelum berjalan kembali untuk berbuat sesuatu yang bermutu. Pada sebuah batu saya menulis “Aku hanyalah musuhku”. Tak sebatas itu, dalam keadaan dingin juga saya mengingat teks bacaan Sidharta Gautama. Sebuah cerita pengasingan. Dalam ceitanya Sidharta harus mengakui bahwa pengasingan bukanlah sebuah jalan untuk mencapai jawaban. Tuhan hadir katanya, justru pada tiap diri kemanusian. Tapi dalam tingkatan tertentu pengasingan ialah suatu jalan. Setidaknya sebagai medium untuk mengambil nafas panjang, sebelum berjalan kembali pada jalan yang tak berujung dan retak dimana-mana ini. (Zaki).

Pada pagi hari, saya terus bergeming. Pada malam pula saya telah salah masuk kamar. Intinya tetap, saya berada di tempat yang tak tepat. Terjatuh pada lubang, lubang yang sangat dalam. Harus tercaci diri ini jika kelak mampu keluar dari lubang kepalsuan. Dimana sebuah kebenaran tak butuh persekongkolan. Dimana kebenaran hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang harus tertunda untuk terbukti.

Saya telah malu pada kemaluan ini, jika kelak sebuah ketulusan gagal saya cipta. Entahlah apa kata orang.!

Juni 2011.
Ditemani lagu bang Iwan Fals “Yang Terlupakan”. !